Hujan hampir reda, hanya beberapa butir gerimis tersisa.
Sebongkah ingatan tiba-tiba merajam kepala, tentang seorang wanita yang sangat kuhapal namanya.
Yang pada senyumnya pernah kukutuk cinta, karena telah menyeretku sebagai penikmatnya. Continue reading
Sudahlah
Malam ini penuh kabut.
Di kejauhan remang cahaya tampak menggoda.
Obrolan kosong manusia-manusia buat sakit gendang telinga.
Beberapa botol bir tampak bermesraan, dalam keadaan kosong.
Kata-kata berserakan di dalam kepala.
Namun enggan berkata.
Maka tercecerlah tulisan-tulisan tak tentu arah.
Bukan gelisah, tak mendekati resah.
Hanya muntahkan aksara-aksara yang terlanjur bergairah.
Sudah.
Mungkin, Bagaimana?
Mungkin saat ini tak sekalipun kita saling menyapa.
Sebab memang kita bukan sesiapa.
Mungkin sekarang kita tak pernah menukar kata.
Sebab memang kita tak memiliki alasan yang sama.
Mungkin masa ini aku masih sering mencuri baca tulisanmu, jelita.
Sebab memang aku ingin selamimu dari untaian kata.
Mungkin memang langkah kita tak berirama.
Sebab arah kita masih beda.
Jatuh Cinta
Tentang semua kata tidak.
Atau selaksa tolakmu.
Tersadarkah kau, duhai gadis.
Bisa saja esok tak menyapa.
Lalu kau, atau aku, tinggalkan dunia dengan sejumlah tanya.
Tersadarkah? Continue reading
Malam Ini Sunyi, Kawan.
Malam ini sunyi, kawan.
Kekasihmu pergi.
Sementara warung-warung yang biasa menjajakan kekasihmu terlihat tak lagi bernyawa, mati.
Malam sudah terlalu dewasa, kawan.
Maka sudah pasti kau sendiri.
Malam ini sunyi, kawan.
Kau sendiri.
Lupakan saja masa-masa indah kalian ketika menanti waktu hilang nyawa di dalam mulutku.
Tak ada lagi, kawan.
Kekasihmu tak berada di sini kali ini.