Lamunan Siang


Ingatkah, saat langit tak lagi membiru, kepak malam mendekati, waktu hari seindah pelangi.
Di sana tawamu berseri, carut marutkan jutaan luka yang sempat hinggap di hati. Mereka lari, lalu mati.
Kita tak mengenal nama, hanya mataku bernafsu memburu tatapmu yang entah.
Desir angin merajam keheningan otakku, mengisinya dengan hawa penasaran, siapa kamu? Mengapa buram awan bila ku jajarkan dengan tatapmu.
Kemudian aku rasa sepi, padahal tak sunyi. Malah riuh suara di sekitar diri. Adakah mimpi? Adakah imaji atau fantasi? Tanya menyelimuti.
Derap waktu berjalan kencang, mengikat ragu yang membentang. Di mana nyali? Apa ia lari ke balik tumpukan nurani yang sedang mati suri.
Legar suara mulai terdengar lagi, keras, sangat keras. Kupingku meradang. Usai sudah lamunan siang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s