Kembalikan Puisi


Mendung lagi menggelayuti, pada hari yang tak bermentari, ketika gembira tak ada dalam hati.

Jari-jari bergerak mengais puisi, tembangkan nada sendu dalam aksara sunyi.

Mengukir kisah-kisah yang sempat singgah dalam diri. Pertemanan, cinta, apapun yang pernah terjadi.

Mendung terus terjadi, saat puisi setengah jadi, makna baru mulai berarti.

Seperti kesetanan pena bergerak di sela jemari, merobek-robek kenyataan lewat diksi. Pikiran lari kesana-kemari.

Coba kumpulkan kembali remah-remah cerita yang pernah tertoreh dalam hati. Puisiku hampir jadi, puisiku akan bernyanyi, bercerita kisah diri

Mendung makin menjadi, jejatuhan hujan berlari-lari, selayaknya aku yang tak berarah mencari tempat sembunyi.

O hujan, jangan basahi puisi, jangan hancurkan puisi, jangan robek puisi.

Hujan berhenti, mataku mengerjap mencari secarik puisi, dimana puisi? dimana puisi?

Gerak mata terhenti, ketika di genang air ada puisi. Hancur, robek disana-sini. Puisiku mati. Pada mendung ku mencaci.

Pada hujan aku memaki, kembalikan puisi!.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s