Mimpi Ibu


Ibu, pagi tadi airmatamu kutemui, ketika puluhan doa memecah udara, segelintir ulama tersenyum suka, serupa bahagia. Maaf, tadi aku, Ayah, dan adik tak sempat menitikkannya, kami berpura Bu. Dalam hati kamipun sungguh ingin menangis. Ah, mungkin kami sebagai lelaki lebih memikirkan gengsi semata.

Ibu, ketika kami mengantarmu memasuki mobil, kami terbata, tak melihatkah engkau? Hujan airmata para tetangga membuat kami terpana, betapa besar cinta mereka. Tapi kami masih tetap tak ingin teteskan airmata, tak ingin beban keluarga menjamahmu di sana. Sempat aku mengintip mata ayah dan adik, ada butiran airmata di mata mereka. Aku memperhatikannya sambil menyeka air yang hangat di sudut mataku.

Ibu, di yayasan tadi kita sempat mengabadikan foto, kuharap bisa jadi pelepas rindu kami saat kau jauh nanti. Segelintir tawamu buatku bahagia, tanpa tangis kau di sana. Buncahan suka kami membahana, melihat ikhrom kau kenakan dengan sempurna.

Ibu, pada asrama kita akhirnya memisah raga. Untuk waktu yang kuanggap cukup lama, terbayang rindu yang akan berjelaga. Sehatlah engkau disana, tuntaskan apa yang jadi perintahNya, tak perlu terlalu pikirkan kami yang jauh dari pandang mata. Kembalilah tanpa kurang satu apapun dari raga.

Ibu, mimpimu sudah terpenuhi. Kunantikan petuah dan senyummu saat kau pulang nanti.

pondok gede, 9 oktober 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s