13 Oktober 2010


Hujan sedang menari, lagi kau duduk di sisi. Kita, terlibat bicara tanpa henti, tawa-tawa yang bahagiakan hati, nantikan pelangi menggaris hari.

Dalam ruang sunyi, banyak manusia terpaksa sepi. Kita saling genggam erat jemari, saling dekap tubuh ketika gigil menyerang diri.

Ketika kita tak berjarak lagi, harum tubuhmu terhirup dalam indera ini. Ada secercah kalimat yang ingin tersaji, namun ku takut itu terlalu cepat untuk di hantar saat ini. Sungguh sesal memenuhiku kini.

Lindap malam basah lagi, jejatuhan air langit kembali turun basahi bumi. Di bawahnya kita berjalan, perlahan lari. Habislah hari, hey malam, aku belum memberitahunya tentang asa di palung hati.

Aku ingin mengulanginya lagi, berdua denganmu tanpa mentari, mengais mimpi yang terjadi. Lalu ungkap hasrat kepadamu hai bidadari, bukan hari ini, tak juga nanti, secepatnya, saat raga kita sua kembali.

*untukmu bidadari, yang habiskan hari tadi bersamaku*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s