Tak Ada Senja


Di gedung tua itu kita berjalan berdua, jajarkan langkah agar sama, lalu bibir pun mulai mengulum cerita. Saat hari masih remaja.

Penuh canda kita memandang artefak peninggalan kehidupan lama, banyak senyummu tersaji di sana, dan sungguh senyummu itu luluhkan penat yang menjejak di raga.

Seperti tak ada lelah terasa, pijak kaki terus saja bergerak dengan irama, sesekali genggam jemari semacam mesra. Terbingkai kisah kita dalam perut kamera.

Hingga senja menjelma, kita masih bersama, banyak tawa membahana antar kita. Sungguh asmaraku membuncah hebat dalam dada.

Ya, senja tadi tak sempat kita nikmati dalam kata, terlampau gembira aku di sana, di sisimu wanita. Tak kupedulikan senja, hadirmu amat sangat cukup bagiku untuk lupakan senja. Sempurnamu yang ciptakan itu semua.

Taukah hai wanita. Kau adalah keindahan terbaik bagi jiwa. Kau adalah sesuatu yang sangat pantas kupuja. Kau adalah kata rindu tanpa jeda. Dan kau adalah alasan terbaikku jatuh cinta…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s