Senja tetaplah Senja


Aku pernah menatap senja..lama kumenatapnya, tapi hanya hampa yang kurasa. Entah dari mana manusia bisa sangat memujanya.

Penasaranku membabi buta, membawaku kembali mencari senja, senja berpelangi, senja kelabu, senja bergemuruh petir, hingga senja nan jingga telah habis kubaca. Tapi tak jua kutemukan hal untuk dipuja.

Hingga senja yang sederhana sadarkan jiwa, senja yang samar terlihat mata, senja yang tertutupi oleh megahnya bangunan ibukota.

Pada senja itu aku tak melihat cakrawala, tak tersentuh pula oleh sinar jingga. Senja itu biasa, ketika hari basah oleh hujan sebelumnya. Di senja itu tak ada pelangi yang kupuja, ataupun semburat cahya mentari yang membara.

Di senja itu aku hanya mendapati tatap mata, yang anggun bersahaja, walau tanpa kata.
Di senja itu aku terlena, terbuai oleh hal yang tak biasa, semacam puja, cinta, entahlah, begitu banyak bahagia mengangkasa.

Ya, senja yang tak akan kulupakan hingga habis nyawa, bukan keindahan mega yang akhirnya membuatku mencinta senja, bukan pula sejuk-sejuk yang selalu mendampingi senja.

Aku mencintai senja karna hadirmu wanita, yang timbulkan misteri asa, yang buat fantasiku jadi gila. Kau terjemahkan indah senja secara sempurna. Lewat sebuah tatap mata.

Dan aku mulai mencintai senja, tanpa pernah melebihi cintaku untukmu wanita. Karna senjaku berada tepat dalam tatap matamu wahai juwita.

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s