Pagi yang entah


Tiba-tiba pagi ini saya merasa rindu teramat sangat menyepi di Alun-alun Suryakencana Gunung Gede, berdiam di depan tenda, meneguk kopi tanpa rasa demi mengalahkan dingin yang mulai membebat tulang dalam tubuh ini. Mungkin dengan dua atau tiga orang teman di sisi, lalu menukar cerita tentang kehidupan masing-masing, dan membiarkan mata tanpa saling berpandang, karena saya memilih berbincang dengan mereka sambil menatap savana yang indahnya tak akan pernah terjamah kata.

Lalu kami akan habiskan beberapa waktu di sana, bercanda, berkisah cerita lama, saat dulu kami masih bergembira tanpa pernah memikirkan masalah dunia. Dan saya berencana memilih mengakhiri pertemuan itu tepat di gerbang Cibodas, biar setelah itu alam yang membawa langkah kita masing-masing menuju ke mana. Karena bagi saya mereka adalah teman terbaik dalam mencumbu alam, sebagaimana kegemaran kita. Dan menjajah kegelisahan di tempat selain alam, mereka bukan orang yang tepat untuk di ajak mengayuh bersama.

Entahlah, pagi ini mulai absurd, memikatku dengan dingin yang mencarut. Endapkan kata tak terangkai dalam otakku, ciutkan hasrat tersenyum menyambut segala sapa..entahlah, ini pagi yang entah, saat keinginan yang entah muncul pada pangkal lereng hari. Maka terciptalah tulisan tanpa arah, perwujudan atau refleksi? Aku akan menjawab ‘entah, seperti pagi ini, pagi yang entah’.

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s