Bandar Lampung Dalam Kenangan


Bandar Lampung, suatu siang beberapa tahun yang lampau, cukup lampau mungkin.

Siang itu aku dan sahabatku mengalami hari yang tak baik, kegelisahan jiwa muda kami sedang membuncah-buncah, tentang sesuatu yang mengganjal di pemikiran, meski kami sendiri pun tak tau semua itu tentang apa.
Ya, kami, aku dan sahabatku Arif Hidayat. Akhirnya kami pun memutuskan untuk hempaskan masalah ini dengan menyusuri setiap lekuk jalan-jalan di Kota Bandar Lampung, tanpa henti dengan mengendarai sepeda motor keluaran China milikku. Hingga kebosanan melanda, karena telah habis sudah setiap detil kota kami jelajahi. Timbul niat untuk melakukan sesuatu yang tak biasa, MENCARI TEMPAT BARU di pelosok kota, lebih tepatnya mencari alam yang baru, entah pantai, bukit, ataupun pegunungan.

Kami pacu sepeda motor menuju arah Pantai Mutun, daerah Bandar Lampung yang sudah berbatasan dengan Lampung Selatan, lebih tepatnya bernama Padang Cermin. Tamparan angin di muka tak membuat kami jera melanjutkan perjalanan yang cukup menyita waktu itu, demi sebuah kepuasan gejolak muda, alam yang perawan. Berpisah kami dengan gerbang TPI (Tempat Pelelangan Ikan Kota Bandar Lampung), terus melaju tanpa henti, karena sudut mata kami belum menemukan sesuatu yang baru.

Kami pun menemukan bukit kapur di tengah perjalanan setelah TPI, bukit kapur yang hamper habis karena penggerusan illegal para pengusaha kaya. Sepeda motor China-ku pun kupaksa mendaki, lupakan cara pakai dari pabrik pembuatnya. Sampailah kami ke atasnya, menikmati keindahan kota dari atas sana. Namun kepuasan jiwa belum juga tercipta, kami masih merasa hampa, bukit kapur yang hampir binasa ini belum juga beri bahagia.

Dengan peluh yang menetes sempurna di setiap raga, kami berpacu kembali mencari sesuatu yang kami sebut orgasme jiwa, alam. Hingga tak terasa perjalanan kami sudah hampir mencapai titik akhir jalur biasa (jalur yang kami tempuh menuju ke arah pangkalan TNI AL di Bandar Lampung). Putus asa sempat mendera, di mana alam yang tak biasa? Di mana lagi kami harus manjakan mata? Sudah terlalu sesakkah setiap jengkal kota dengan dengan gedung-gedung tinggi yang menjulang habiskan cahya mentari?.

 

 

 

 

Sampai akhirnya sudut mata menangkap hamparan pasir putih yang tersembunyi di balik semak lebat. Berbinar mata kami menatapnya, saling menatap jadi kegiatan paling sempurna saat itu, pikiran yang sama menjejali kepala kami, ini surga yang di butuhkan jiwa.
Kami hentikan napas mesin yang sebelumnya tak pernah berhenti dari motor China, memaksanya masuk menerobos semak belukar yang hampir tak bercela. Hingga akhirnya kami terhenti tepat di ujung hamparan pasir putih, sangat putih, tak ada sampah yang menempel di permukaannya, sama sekali. INI SURGA!! Kami teriakan berulang-ulang dari mulut kami yang berbau tembakau dan minuman bersoda…

Tanpa ampun kami menelanjangi diri, hanya celana dalam tersisa di tubuh kami, tak ada manusia di sini, hanya kami. Kami cumbui pasir pantai yang menggoda, menyelam bersama air laut yang biru dan jernih. Lama kami melakukan itu, hingga kelelahan menyergap. Kami pun menyingkir dari jernihnya air laut, berdiam di sudut pantai menanti senja…..

 

 

 

 

 

 

Senja pun tiba, langit sontak berubah jingga, bias cahyanya terpantul sempurna di atas kristal pasir laut… Kami tertawa seperti gila, berteriak entah apa, hanya coba refeksikan gundah jiwa muda.Tak sadar mata kami berdua sama-sama berkaca-kaca, persis sama yang kami dapati saat berada di puncak gunung yang pernah kami jelajahi bersama. Ini orgasme jiwa!! Alam beri kami kepuasan sempurna….

Waktu pun mulai berjalan sebagaimana mestinya, hitam pekat di cakrawala jadi pertanda, ini akhir perjalanan kami, kami harus pulang, menuju ke dunia nyata yang seolah tak pernah berbaik hati pada kami berdua, dunia nyata yang penuh kepicikan, kepalsuan, dan segala ketidakbaikan… Puas sudah jiwa kami, jiwa muda yang biasanya selalu tak puas akan segala. Pantai tak bernama itu bernama itu beri kami sesuatu yang baru, harta karun di antara riuhnya kota.

Malam pun semakin renta, kami lanjutkan hari dengan duduk bersama di beranda, berteman kopi dan berbatang-batang rokok Gudang Garam Surya. Cengkrama kami berlangsung lama, apa pun bisa jadi topik bicara. Sampai pada titik kami berpikir pantai tadi, dia belum punya nama, lama kami berpikir akan sebuah nama… Nama wanita sempat jadi rekomendasi utama, tapi… ah, wanita terlalu biasa..kami ingin yang beda, yang tak biasa… Lalu kata AKU DAN KAU mengisi kepala… ya kami namai pantai temuan kami itu dengan nama Aku dan Kau… Pantai yang membuat kami bias mengharu-biru sebagaimana alam pegunungan biasa membuat kami seperti itu… Yang sekarang entah bentuknya seperti apa…….

Bila kalian sempat bermain ke kota kelahiranku, Bandar Lampung, jangan hanya terpenjara di alam kota. Melangkahlah menuju pantai itu, yang lokasinya kurang lebih 20 km dari kota Bandar Lampung. Berjalanlah kea rah Teluk Betung, tembus tirai daerahnya menuju Lempasing. Jangan berhenti di sana, paksa kaki tuk berani melaju ke Padang Cermin, dan temukanlah banyak pantai yang belum terjamah manusia, kesunyian yang sempurna… Dan jangan lupa untuk membawa perbekalan, karena itu daerah terpencil, penjaja makanan di pinggir jalan akan habis di batas Lempasing… Lalu silahkan bersenggama dengan pantai yang tak terjemahkan kata itu, pantai yang hadir di hidupku saat kegelisahan mengganggu, pantai di kota kelahiranku, pantai yang kunamai AKU DAN KAU itu….

Aku dan Kau, kunamai kau seperti itu, saat hamparan pasir putih dan jernihnya air laut berpadu… Sajikan kesempurnaan sempurna di sudut mataku.

Memoriku tengah menerawang menuju masa lalu, masa kuliahku, masa di mana keadilan manusia tak pernah berpihak padaku. Dan hanya alam yang mampu memberiku itu.

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s