Aku kehilangan Bidadari.


Hujan basuh wajah pagi. Sadarkan aku dari kisah seperti mimpi. Hilanglah raga bidadari yang beri senyuman pada diri.

Lalu terjebak aku dalam pikir tanpa arti, bayang sepi seakan siap menerkam tanpa henti. Kata sendiri mencuat sebagai refleksi.

O, hari, jangan penjara aku dengan sunyi. Beri aku secercah cahya mentari. Lontarkan riuh ke dalam isi kepala ini.

Pandangku kosong menatap langit-langit kamar ini. Coba cari sisa kebersamaan malam tadi. Tak ada! Gembiraku perlahan mati.

Rindukah ini? Saat rasa ini melihatnya lagi kuasai hati. Entah, aku hanya merasa tersakiti oleh harap di suatu pagi.

Semoga jarak ini cepat mati. Dan kekasihku lekas kembali. Saat senja menjadi-jadi. Biar lesap segera gelisah yang sedang menyelimuti.

Karena pagi ini aku kehilangan sosok bidadari, yang senyumnya senantiasa hibur diri. Jarak pun mencuat sebagai musuh utama hati, hadirnya kaburkan keberadaan bidadari. Anganku perlahan mati.

pagi ini bidadariku pergi sebelum sang mentari dilahirkan, aku terpuruk sendiri di kamar sunyi ini memendam kerinduan.

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s