Rencanaku, untukmu.


Petang itu aku melihat perempuan sedang duduk anggun di balik meja. Kecantikannya menghunjam mataku.

Seiring desing peluru waktu yang melaju kencang, perempuan itu kini erat kupeluk dalam episode kehidupan.
Pelita cinta bersinar terang di tengah-tengah kami. Tak terhitung pagi, siang, malam kami jejaki bersama hampir setiap hari.
Bagai pemabuk di dalam bar yang tak sanggup lari dari jerat alkohol, ketergantunganku akan hadirnya pun terbaca seperti itu.
Dengannya, kutelanjangi tubuh kisah hidupku, kini, dan masa lalu, tanpa kecuali. Entah, ada yakin yang kuat mencuat, hingga kuberanikan diri melucuti satu persatu helai cerita hidupku.

Bersamanya aku merasa nyaman, bagai seorang bayi yang sedang menyusu pada payudara ibunya, tak sekalipun hembus ragu menerpaku.
Perempuan, kekasihku itu mampu sirnakan gundah yang sesekali tertelan kerongkongan hariku.
Habis kata-kataku tuk ungkap seperti apa kekasihku membuatku bisu, ya, bisu dalam mengucap protes tentang sesuatu yang mengganggu.
Karena polah kekasihku sudahlah sempurna bagiku.

Kini butiran rencana makin keras terjatuh di benakku. Tentang masa depanku, pernikahan.
Aku sangat ingin jadi mempelai lelaki yang di lenganku terselip lingkar tanganmu, kekasihku.
Aku ingin kau jadi mempelai wanitaku, dan kita bersanding di atas altar suci, setelah kita lakukan ritual agama sebelumnya.
Aku berencana melihat senyummu terlukis tanpa henti di kanvas hari, hari pernikahan kita.
Sambil membalas jabat tangan ucapan selamat dari para tamu kita.
Tinta rencanaku tak usai sampai di situ, baris selanjutnya torehkan inginku untuk memiliki anak darimu. Dan kita akan tinggal di rumah dengan cahaya bintang sebagai penerang. Dan ranjang yang mampu beri kenyenyakan di setiap tidur kita.
Bersama kita goreskan pena kehidupan, selamanya. Hingga kematian terjadi.

Kekasihku, aku tuliskan semua sebagai rencana, larik-larik doa seusai ibadahku.
Karena, seperti kau tau, aku belum bisa memilikimu seutuhnya. Ranjang dan rumah pun belum kupunya.
Maka, kumohon padamu, kekasihku. Beri ruang sabarmu untukku, tunggulah aku, selimuti aku dengan kain percayamu, karena aku pasti akan mewujudkan semua itu.
Aku berjanji padamu…
Aku bukan pendongeng yang janjikan bahagia dia akhir cerita, bukan pula pemberi mimpi semu, aku lelaki yang jatuh cinta padamu. Dan menghabiskan sisa hidupku bersamamu dalam biduk rumah tangga adalah tuju utama cintaku. Kau alasan terbaikku jatuh cinta, kekasihku.
Aku mencintaimu sangat..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s