Sahabat (kami) telah mati


Tanpa tawa kami berdiskusi.
Cari cara temukan jasad yang katanya mati.
Selaksa doa terkulum di bibir kami.
Letih raga sampai tak terasa lagi.
Hei, sahabat kami hilang dari bumi.
Jejak kakinya tak terbaca lagi di setiap jalan yang kami lewati.

Kami menangis, saling memarahi.
Terbayang wajah Emak Bapaknya yang sedang menanti.
Seminggu ia pergi dengan kami.
Menuju daratan tinggi, cari arti jadi lelaki.
Seperti apa reaksi Emak Bapaknya nanti?
Terbayang wajah kami yang membiru karena dipukuli.

Sebab : kata kuncen ia telah mati, jasadnya ikut pergi. Raja setan membawanya jadi abadi.
Lantas, tak adakah Tuhan di sini? Tanya kami dalam hati. Sebelum pikiran dipaksa percaya bahwa sahabat kami telah mati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s