balada hujan


di depanku, jalanan yang basah dipadati oleh kendaraan bermotor yang seperti berhenti. semua hampir seperti sedang parkir, entah apa penyebab semua itu.
caci maki pengemudi mulai terdengar, mata-mata mereka terbelalak siratkan kekesalan akan pengemudi yang lain. semua ingin terburu, semua tak ada yang mau mengalah, semua adalah raja.
perlahan nama sang hujan mulai dielukan, dijadikan alasan untuk hempaskan amarah. hujan lalu dikategorikan sebagai pembawa masalah bagi para pengendara kendaraan bermotor. hujan yang tak tau apa-apa jadi kambing hitam paling sempurna.

padahal, tak setiap hujan lahirkan sengsara, bahkan hujan sering diminta datangnya. petani-petani bahkan sampai mengadakan ritual untuk memanggil hujan agar membasahi sawahnya. pada musim kemarau, hujan serupa permata paling istimewa, hadirnya adalah pemuas dahaga sumur-sumur yang kering karena gerus sengat mentari tanpa henti. terkadang manusia bersuka saat hujan tiba di musim kemarau.

dilema bagi hujan, hadirnya ambigu. bawa beragam makna bagi manusia, manusia yang tak pernah puas akan segala. tapi hujan tak mendendam, meski hadirnya terkadang disambut dengan wajah meradang manusia. hujan akan kekal bagi dunia, ia akan terus sirami bumi yang kering, bahagiakan katak-katak yang selalu bernyanyi bila ia tiba. Ya, hujan tetaplah hujan. terkadang ia dibenci, namun tak jarang datangnya bawa sejumput bahagia untuk kita, semua.

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s