Aku, di antara buku-buku.


image

Hanya ada sepi di sini, di antara tumpukan buku yang tersusun rapih di atas rak abu-abu.
Semua manusia di depanku berdiam, kepala mereka merunduk serupa malu, mata mereka tajam melihat benda dengan posisi di bawah dagu, sebuah buku.
Langkah waktu mulai berlalu, petugas sibuk melayani tamu, decit mesin photo copy tua terdengar pilu.
Di atas mejaku, tak kutemukan hal lain selain wajahku yang membayang di atas kaca.
Hanya dalam pikiranku ada tumbukan buku yang terhampar di depanku, nantikan aku menjamah habis tubuh serta isi mereka.
Tapi entah, lelah memaksa selsel tubuhku enggan bergerak,otakku perintahkan bagian tubuhku yang lain untuk diam saja, jikalau bisa tergeletak.
Agar lelah ini musnah, dan dengan segera bisa kumulai menjelajahi tiap sudut gedung tua ini, yang berisi lembaran-lembaran kisah tentang masa lalu kini atapun apa saja. Di sini, pepustakaan nasional.
Tempat aku mencoba rangsang otak agar tak lagi bebal.
Sayang sudut miring lelah di kepalaku terlalu terjal, hingga justru dudukkan aku di atas kursi tebal, persis di depan pintu masuk lantai 5.

-Rabu, 14 April 2011. Di meja baca terbesar di lantai 4 Perpustakaan nasional-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s