aku menunggui jawaban mimpiku yang sesungguhnya telah mati


Aku menunggui jawaban akan mimpi, saat edelweis menari-nari.
Bulan penuh malam ini, deru napas teman seperjalanan jadi bunyi yang paling sering didengar indera pendengaranku ini.
Di mana suara angin? Lagu hewan liar dataran tinggi?
Sungguh hari ini sangat sunyi, sampai malam pun enggan bernyanyi.
O tubuh gunung tempatku menjejak, aku datang padamu bukan untuk sebuah sepi.
Hadirku untuk mencari tau kemana arah mimpiku berlari.
Apakah ia menuju langit yang tinggi? Dan aku tinggal menunggu waktu semua jadi nyata.
Ataukah ia jatuh ke kedalaman jurangmu, lalu mati.

Bunyi kerikil terinjak-injak oleh sepatu para pendaki semakin kuat.
Aku terduduk di tepi jurang, puncak tertinggi gunung Gede.
Menatap langit yang berseri, mengucap doa dalam hati.
Maaf Tuhan, kali ini aku tak mengucap padamu.
Aku limpahkan doaku pada alam yang sepi, dingin yang mengitari.

Satu tepuk tangan teman di pundakku pecahkan lamunanku.
Tersentak aku dari diamku, sadari kesalahan atas lamunanku.
Untuk apa aku bertanya? panjatkan doa?
Bukankah hadirku di sini untuk mengobati, sebab mimpiku telah mati.
Kata ‘bodoh’ menggelegar keras di kepalaku, tertuju padaku.
Sebab ; aku menunggui jawaban mimpiku yang sesungguhnya telah mati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s