absurd


image

Di dalam gedung ini, mesin pendingin ruangan terlalu sempurna bekerja, siraman udara dingin di atas kepala buat gigil yang luar biasa.
Di luar sana, hujan sedang menari gembira, lesaplah cahya sang surya, yang harusnya menembus jendela kaca,membawa hangat di sekitar raga.
Aku berpindah menuju selasar, tepat ditengah gerbang kedua ruang di lantai 4. Tak ada sesiapa di sini, hanya aku dan deru kipas mesin pendingin di dalam ruangan sana.

Di depanku, segelas kesunyian terhidang, serta beberapa potong pertanyaan. Mereka jadi hidanganku di waktu jelang senja. Asupan terbaik untuk kinerja otak dalam kepala. Bergemuruh mereka dalam kepala, cipta bunyibunyi yang tak biasa. Getarkan gendang telinga, sayukan pandang mata. Aku biarkan itu semua, sebagai penghibur kala sepi melanda.

Kulihat sekelilingku: masih kosong saja. Di dalam tulisanku,aku temukan wajahku, tampak terjebak di situ, tak mampu keluar. Jemariku kelu, lidahku mengeras beku. Kini aku melihat kursi tempat aku habiskan waktu. Aku berada di ruang lain, bukan ruang yang sama tempatku tuliskan tulisanku. Ruangku kini putih berdinding cahya, hingga silau mataku olehnya. Atapnya terbuat dari kaca, dengan tulisanku sebagai motifnya, yang kubuat sebelum aku masuk di ruang entah ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s