Pulau Biawak dalam ceritaku 1.


13 Mei 2011,

Langit mulai menyentuh senja, tapi tak ada jingga di atas sana, hanya gemawan kelabu berdansa dengan riangnya. Sisa jatuh hujan masih menggenang di jalanan Pancoran, Jakarta Selatan. Lalu lintas masih lengang.
Aku dan segenap penat di kepalaku masih terduduk di warung rokok pinggir jalan. Sambil menatap kekasihku dan segelas teh hangatnya. Menanti teman-teman yang akan melakukan perjalanan bersama. Ya, aku akan leburkan penat menyeluruh di dalam kepala lewat perjalanan bersama mereka.
Isya terlewati saat kami memulai perjalanan kami dengan bus berukuran sedang. Duduk aku di samping kekasihku, sediakan bahu untuk tidurnya, sementara bis yang membawa kami mulai bergerak tembus jejalan malam yang kian sunyi. Menuju Karangsong, Indramayu. Tempat di mana kapal yang akan membawa kami semua menuju pulau Biawak berlabuh.
‘tidurlah sayang, jadikan bahuku tumpuan kepalamu, rebahkan lelahmu, arungi mimpimu. ada hari esok beserta setumpuk misterinya menanti kuatmu’

14 Mei 2011,
Dini hari kami tiba di Karangsong usai menempuh beberapa jam perjalanan darat dari Jakarta, bau amis khas tempat pelelangan ikan sekaligus pelabuhan kecil menyergap, rasuk penciuman kami dengan hebatnya. Datang kami disambut oleh nelayan dan pemandu yang siap antar kami, serta rintik gerimis malu-malu yang hasilkan beberapa genangan di tanah tempat kami berpijak.
Kami terbagi jadi dua perahu, karena jumlah kami yang cukup banyak. Aku, kekasihku, berada dalam perahu yang sama. Kugenggam tangannya di dini hari yang gulita, meniti sepotong kayu yang berfungsi sebagai jembatan masuk ke dalam perahu. Hari ini langit serupa enggan tersenyum, terus merenung dalam mendung. Pemandu mengajak kami berdoa sebelum memulai perjalanan, sebab cuaca tak mau berbaik.
Perahu mulai menyisir sisa daratan, mulai menuju laut lepas.

image

Kuposisikan diriku tepat di samping kekasihku, agar bisa kujaga ia dengan segala nyawa. Semua larut dalam tidur, di bawah ombak kecil, gerimis tipis dan langit tanpa cahaya.

image

Tapi aku masih terjaga, berbincang dengan deru angin, debu ombak, sambil menatap juru mudi yang bagai dewa. Mampu jalankan perahunya tanpa cahaya yang biasa jadi penunjuk arah, di tangannya nyawa kami tersedia. Kukecup kening kekasihku yang tampak pulas dalam tidurnya. Lalu mulai ikut bermimpi sambil.memeluknya.
Langit belum juga bercahaya, saat aku terjaga. Matahari masih bersembunyi di balik jeruji awan abu-abu. Malah gerimis lagi terjadi, hasilkan riak ombak remaja yang tak henti hantam sisi kapal. Perjalanan cukup lama, sebab cuaca, perahu kami tak begitu besar, juru mudi harus memilih dengan seksama bagian tubuh ombak yang harus dibelah, agar tetap terjaga posisi perahu kami.

image

Semua mulai terjaga, ketika pulau Rakit atau Biawak (nama aslinya adalah pulau Rakit, lalu menjelma jadi pulau Biawak atas kebiasaan para nelayan yang beristirahat di sana, karena di pulau tersebut terdapat ratusan biawak) tertangkap batas terjauh pandang mata. Tempat di mana kami akan bermalam, tapi saat ini tujuan kami bukanlah ke sana, kali ini lebih jauh, kami mau menikmati keindahan bawah laut Jawa di pulau Gosong. Ingin cumbui indah terumbu karang, bersenggama dengan pasir putih yang cantik.

Pulau Gosong.
Pulau ini tak berpenghuni. Hampar pasir sewarna putih berselimut kain lautan biru tampak menggoda, minta untuk dijamah.

image

Usai habiskan makan siang, kami semua mulai satukan diri bersama laut biru, semua bergembira, tumpahkan banyak tawa. Seperti lupa akan segala hal yang sengaja ditinggal di riuhnya Jakarta. Aku dan kekasihku menyusur laut dangkal bersama, berdekatan, biarkan mata dibuai gerak ikan kecil dan sejumlah terumbu karang ragam warna di sana.

image

Lama kami nikmati panorama di sana, jilat pijar bola api di langit hari sempurnakan suasana, kilaukan warna tak biasa di sekitar mata. Sebelum kami sudahi manjakan mata dengan berfoto bersama-sama.

image

Dan kami hempaskan tubuh kami kembali ke atas kapal, menyusun lelah agar tak keluar dengan seenaknya, sebab masih panjang cerita hari.
Bergerak kapal perlahan menuju tempat di man kami akan habiskan waktu sampai esok hari: Pulau Biawak. Ombak kali ini cukup syahdu, berdendang dengan buih yang hampir tak ada. Laut tenang, beberapa burung laut tampak membelah angin, wajah lautan gambarkan bentuk mega yang bercahaya, karena sang mentari telah kembali bertahta.
Dan aku terdiam dalam menatap kilau sepasang bola mata, merasa tersesat di sana, tanpa pernah berkeinginan keluar, sebab aku jatuh cinta. Mata itu adalah mata kekasihku, yang sedang merebah dalam pelukku.
bunyi ombak, racau burung, dan beberapa tarian ikan jadi pertunjukan. pencahayaan matahari, layar lautan, pun jadi pelengkap kisah petualangan mata di laut jawa

Pulau Biawak

image
image

Dermaga panjang terlihat menanti dengan sepi, sebuah mercusuar tampak menjulang hampir sentuh gemawan terendah. Sekawanan burung laut berkumpul di atas dermaga,

image

Lalu menghambur pergi bersama angin saat beberapa teman berusaha menjerat mereka dalam gambar kamera.
Kami lewati siang dengan bercengkrama, bercanda, sebagian teman terlihat masih matikan lelah dalam istirahat di rumah penginapan, ataupun melihat liar kehidupan beberapa biawak, bermain dengannya, menggendongnya.

image

Lalu menyusur hutan bakau yang berada di sana. Tawa kelakar, canda bahagia, tumpah ruah bersama kidung angin yang tak henti bergerak. Sesekali kucuri waktu tuk sekadar lukis cinta di genggam tangan kekasihku.

image

Kami semua bersama, menuai cerita, membagi keakraban sebagai sesama anak manusia. Hingga senja menyapa… (bersambung ke Pulau Biawak dalam ceritaku 2-end)

PS: Beberapa foto saya ambil dari album facebook teman-teman yang ikut dalam perjalanan ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s