Pulau Biawak dalam ceritaku 2-end


image

Senja pun tumpah di cakrawala, tak sempurna memang, hadirnya tertutup lagi oleh awan yang malu-malu, hanya sedikit jatuhnya yang bisa tertangkap mata. Kami habisi dengan bermain bersama di dermaga. Dan lagi aku mengintip senja di dalam bola mata kekasihku, sebab hanya di sanalah senja yang paling sempurna tercipta.
Langkah kaki sang waktu terus berjalan, tanggalkan jingga tak.pekat di cakrawala, menggantinya dengan hitam malam.
Kami menjamah tangga malam dengan makan bersama di tepi pantai, ikan bakar jadi menu utama.
image
Berlanjut dengan tawa-tawa yang seolah tak mau berhenti memeluk perjalanan kami. Di salah satu sudut aku rayakan cinta bersama kekasihku sambil menatap kembang api yang berpendar di hitam langit, usai dilontarkan oleh teman. Begitu riuh, sangat hangat. Begitulah suasana mendekap.
Malam kian menua, kami semua bersepakat untuk tidurkan tubuh di dermaga.
image
Beralaskan matras, kantung tidur, sarung, apapun. Seolah tak peduli pada dingin embus angin laut yang seketika bisa memperkosa. Aku tepat berada di samping kekasihku, mengucap sapa malam padanya, beri kecup di keningnya. Sebelum kami larut dalam tidur di alam yang tanpa busana. Ditatap mata bintang dan diterangi nyala tubuh sang rembulan. Selamat malam, alam yang memesona.
malam yang paling sunyi; ialah malam tanpa apapun darimu, sayang. dan malam ini sangat gaduh di kepalaku, terjadi pesta besar dalam hatiku, sebab kau tepat berada di depanku, sebelum tidur kita, cinta

15 Mei 2011,
Kubuka mata dengan surga di depanku; senyum kekasihku. Hampir semua teman sudah terjaga dan berpindah tempat. Aku dan kekasihku memilih sejenak bercengkrama di dermaga, berbincang, menukar canda, taburkan cinta di antara anak angin yang berpusar mesra di sekitar kami. Sebelum kami bersiap tuk menyantap makanan kami dan bergegas pulang.
kita berpisah duhai daratan kering di laut luas, reptil pemakan bangkai penguasa tanah ini. mungkin esok, lusa entah kapan kita kan bercumbu lagi, selama mati belum menyambangi, entah

image

Kami pun beranjak masuk kapal, kembali menatap laut luas terhampar. Menuju kepulangan. Senyum masih tak henti merekah di semua wajah. Cuaca cerah, matahari dan awan biru berkuasa penuh di kerajaan langit. Angin sederhana saja terjadi.
Di antara bunyi ombak, di tengah lelap teman-teman. Aku dan kekasihku saling tuliskan sesuatu, ia pun ciptakan sajak untukku di sela deru mesin perahu yang berteriak kencang di dekat telinga.
image
awan putih seputih kasihmu yang tulus.
biru langit sebiru hatiku bila tak bersamamu.
canda ombak bagai menggoda kita tuk ikut tertawa.
hijau tas mungilmu sehijau sayangmu yang tumbuh subur dalam segenap hariku.
terik matahari mengeringkab seluruh sepi yang biasanya penuh melumuti pikiranku.
ah..aku tak tau lagi perumpamaan apa yang pantas kuhantarkan dalam secarik kertas ini, sayang.
yang kutau kisah cinta kita akan terus melaju dan berlabuh di pantai indah cinta kita
Seketika hening, hanya teriak bahagia dalam hatiku, suka bergemuruh di setiap rongga kepala, perjalanan ini adalah kenangan. Beberapa teman, ribuan kesenangan, kekasih, dan cinta yang membahagiakan.

Terik mentari masih menjilat tubuh; gores penaku mulai membentuk kata untuk pulang ini:
image
suara mesin di samping kepalaku seperti desing peluru dalam peperangan. memburu, mengejar, antar suara yang paling keras pada gendang telingaku. di sini, di atas kapal nelayan. aku sajakkan sebuah perjalanan, setubuhi tubuh laut lepas, hingga biru seluruh pandangku sebab laut lepas. beberapa kali bayi-bayi ombak terlempar ke udara usai sang ibu hancur di tepi kapal, hantam wajahku. saat ini mentari sedang riang di puncak tertinggi, ia berkaca, bersolek di atas cermin samudera. kulitku mulai merah, bunyi angin kian riuh. untung kali ini ombak beriak tenang, sunyi, serupa ucap sufi yang tenangkan hati jemaatnya. masih ada beberapa jam lagi perjalanan ini. masih liar alam tuk diterka, aku memilih diam saja, menanti kapal ini berlabuh, menuju pulangku, ruang penuh penat. usai pertapaanku di alam tanpa kemapanan. -laut jawa 15/05/2011‘.

Tapi ombak tetiba menggila, ombang-ambing kapal tanpa jeda.
image
Tumpah air laut beberapa kali terhempas ke dalam kapal, tegang tegas terlihat di wajah kekasihku, kupeluk jemarinya dengan jemariku. Di kepalaku, tergambar sudah yang harus kulakukan sat kemungkinan terburuk, itu yang buat tenang bersemayam di kepalaku, agar bisa kujaga keselamatan kekasihku.

image

Senja hampir tiba, ombak belum berhenti jadi gila. Namun pelabuhan tempat kami kan bersandar sudah masuk dalam pandang mata.
Beton penahan ombak tenangkan laju kapal kami lagi. Pemancing modern yang mengunakan sepeda motor dan mobilnya hingga ke ujung batas daratan menyambut kami, kesibukan nelayan Indramayu jadi pemandangan terakhir kami sebelum kapal.bersandar.
Sejenak kami menanti jemputan di sudut Karangsong.
Sebelum menuju kota Indramayu, mencari makanan untuk makan malam kami.

image

Malam mulai penuhi langit Indramayu, muda-mudi tampak tersebar di seluruh penjuru lapangan tempat kami berhenti untuk makan. Bubur sop ayam kupilih sebagai santapku, sedikit pengingat masa lalu di kota kelahiran Ibuku; Cirebon. Kekasihku dan beberapa teman memilih makan di salah satu rumah makan cukup besar di sana. Lagi-lagi sejumlah tawa tercipta sebelum makanan dihidangkan dan setelahnya. Ah! Ini perjalanan penuh warna, satu warna; bahagia.
Melarut malam sudah, kami telah duduk diam dalam bis, di luar cahaya lampu mobil besar silaukan mata. Semua kembali.bersiap terlelap. Pun aku dan kekasihku, kusiapkan lagi bahuku sebagai penopang tidurnya.
Tak terasa kami telah memasuki Jakarta, harum kesombongan ibukota tercium dengan kerasnya. Berpisah kami di dini hari Jakarta yang sepi, seolah mati. Di akhiri dengan sapa-sapa yang saling berterima kasih.
Sebuah perjalanan panjang yang menyenangkan. Penuh keriangan. Hingga lupa aku arti duka, luka dan penat. Sebelum mungkin esok aku akan kembali mengingatnya.

image

hidup adalah kenangan, dan tepat keputusanku untuk mengisi salah satu lembaran hidupku bersama kalian. kalian ajarkan aku kebersamaan, seperti apa rupa tawa, bisik bahagia, dalam perjalanan kita. hidup adalah kesementaraan dan ingatanku akan kalian adalah keabadian dalam ingatan.’ (terima kasih teman-teman untuk perjalanan ini)

kupendarkan cinta ke langit tempat kita menatap, kucuri seluruh senja dalam cakrawala perjalanan kita,dan kumasukkan ke dalam matamu. agar tak ada senja yang tinggal sebagai kenangan saat cinta kita berpesta sepanjang perjalanan ini, sayang. sebab dirimu ialah bingkai paling sempurna dalam lukisan tentang indah dalam hidupku‘ (untukmu)

PS: Beberapa foto saya ambil dari album facebook teman-teman seperjalanan.

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s