Cerita hujan dan sepi


image

Awan hitam habisi pandang mata. Di tepi jalan, anak kecil berbaju kumal mulai berlarian sambil menggenggam payung yang masih kuncup.
Dari mata mereka terpancar harapan: segenggam uang.

Otakku coba melawan kenyataan. Menyangkal gelap di cakrawala, berpikir matahari sedang membakar birunya mega.
Hingga lari kecil para pejalan kaki sadarkan lamunanku. Ini mendung, kawan!

Anak-anak hujan kian menari di langit hari, sebelum senja terjadi. Aku menatapnya dari balik ruang kaca, sendiri, coba tersenyum untuk sepi yang terjadi.

Anak-anak kecil yang tadi tampak tak peduli. Walau bajunya basah hingga kuyup. Mereka tetap tertawa, kantung celana mereka menggelembung. Berisi uang recehan dari para penggunan jalan. Payung mereka berpindah tangan yang satu ke lainnya. Langit mendengar doa mereka.

Dalam kenikmatan sepi, kucari dingin pada bola mata mereka, tak ada! Hanya pendar bahagia di sana. Langit wujudkan doa mereka. Mungkin uang yang mereka dapat akan dipakai untuk bersekolah, atau mabuk bersama teman-temannya. Entah.

Yang kutau, hujan di Ibukota bawa sebongkah cerita padaku, di sela dingin yang menyergap tubuhku. Di antara partikel sepi yang mengisi kepalaku.
Dan aku masih sendiri. Di ruang kerja tanpa penghuni ini, sendiri, nikmati sepi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s