sebilah belati sepi


image

kembali, di sini, sendiri.
terduduk diam menatap televisi yang mati.
di atas meja, sebilah belati sepi telah siap hunjam diri.
entah di mana tawa-tawa yang pernah kutemui.
sempat aku berteriak pada langit hari:
o kemuliaan dewi, keanggunan bidadari, ketulusan peri.
aku berandai kalian bisa datang ke sini.
lalu kita berkisah tanpa henti di hadapan segelas sunyi.
setelahnya kalian bawa aku pergi.
jauh dari tempat ini.
tapi sia-sia lagi terjadi.
mungkin mereka sedang sibuk sendiri.
menyeka peluh sepi di keningnya nan mewangi.
atau mungkin mereka terlalu enggan ajak aku pergi.
sebab tubuhku terlalu berdebu sebab terlalu lama teronggok di sudut ruang paling sunyi, sendiri.
entahlah, semua selalu saja tak tak pasti.
tinggal aku sendiri.
menatap sebilah belati yang mulai mendekati.
menuju ulu hati.
yang mungkin akan dengan liar habisi tubuh dan otakku, nanti.
aku, lagi hanya bisa berdiam diri.
sambil membayangkan nyeri yang kelak akan terjadi.
sebab sepi yang menjelma jadi sebuah belati.
di sini.
di tempat di mana aku merasa sepi.
sendiri.

6 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s