Tanya (sebuah pagi yang tak biasa)


Aku sedang duduk diam semeter di depan pintu belakang rumah.
Sedang dengarkan pagi lewat cicit burung gereja di tanah yang rumputnya telah habis dicabut, mungkin mereka sedang bernyanyi.
Bau pagi kali ini tegas milik pewangi baju dari jemuran Ibu-Ibu sebelah rumah yang baru saja selesai mencuci pakaian.
Aku coba nikmati jari-jari matahari yang kian giat menembus kacamata minusku.
Lalu sebingkai tanda tanya bergulir dalam kosongnya pemikiranku, terus bergerak menggedor-gedor lapisan dalam otakku.
Tapi aku malas berpikir, mencari-cari sebuah jawab atas tanya yang tak pernah aku mengerti.
Tanya yang sebenarnya sangat ingin tak kupedulikan.
Tapi tanya terlalu berkuasa.
Ia kosongkan pandangku, rumitkan cara kerja otakku, bekukan lidahku.
Hingga aku hanya bisa diam saja, menikmati setiap gerak tanya dalam tubuh dan pemikiranku.
Aku tak mencoba untuk tersenyum, dan biarkan kemunafikan menjalar.
Aku tak berupaya untuk tertawa menutupi tanya yang ada.
Aku tak berusaha nyalangkan mata, luapkan emosi dalam teriak kata, sebab itu sia-sia.
Pun aku tak ingin murung dan bermain-main dengan air mata, aku tak tertarik melakukannya.
Aku hanya diamkan saja tanya berlarian di pagiku, di mana burung gereja sejukkan telinga, dan harum pewangi baju sesaki udara.
Hanya diam. Itu yang kupilih untuk hadapi tanya.
Pada sebuah pagi yang tak biasa.

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s