di malam yang gerah, ketika musim penghujan.


Malam ini bulan hilang entah ke mana, bintang pun lesap dari langit.
Hanya beberapa cahaya terlihat berkelebat dari balik hitam cakrawala, mungkin saja di atas sana anak-anak kilat sedang asik bercanda.

Malam ini gerah, serupa cuaca saat mau hujan, pertanda sudah ada, ketika geluduk tetiba saja berdendang.
Tapi bukankah alam sedang resah? Di musim penghujan seperti ini, sang hujan seakan enggan terlalu sering jatuhkan dirinya pada bumi, jarang sekali.
Jika ada, hanya tiup gerimis saja yang ia turunkan, sebagai pengingat bahwa ia masih ada.

Terbayang wajah resah petani yang tanah sawahnya mengering, padi-padi yang hampir menguning tetiba harus mati.
Di berita, raut iba dari penduduk desa nun jauh dari raga terlihat berbondong mengantri ambil air bersih dari mata air tersisa, sebab mata air lainnya telah dimakamkan oleh semesta.
Mungkin bila aku bisa mendengar suara rumput kering, tanah yang terpecah-pecah, pepohonan yang dipaksa meranggas, mereka akan suarakan iba yang sama; menanti hujan bertamu ke ruang tamu mereka, setidaknya sekali saja.
Tapi mungkin juga para nelayan bahagia, sebab cuaca tak sebabkan ombak besar yang hambat penghasilan mereka. Atau tukang kebun yang tak perlu kesulitan memotong rumput di halaman rumah majikannya, karena hujan selalu suburkan rerumputan dengan butirannya.
Ah! Tak tau aku, semua hanya prasangka otakku. Aku bukanlah sang ahli yang mampu tebak semua kemungkinan sebab cuaca.
Aku hanya awam yang tertegun lihat ketidakstabilan cuaca.

Malam ini, aku biarkan mataku terus susuri langit hitam, coba tangkap selewat cahaya terang yang kuyakini sebagai anak kilat. Dan nikmati angin panas musim kemarau yang anehnya tiba di musim penghujan.
Terpikir aku akan keanehan cuaca.
Di beranda rumahku, ditemani murungnya mata malam, suara tawa anak kecil dari balik pagar rumah tetangga.
Aku tuliskan kata demi kata yang keluar dari kepala.
Lalu berapa bulir air mata sempat membasuh kulit wajahku, di bawah mataku.
Ya, air mataku jatuh. Serupa rindu alam raya, petani, pada hujan. Atau rindu nelayan pada masa di mana ikan-ikan besar jadi tangkapannya. Yang kesemuanya bisa hadirkan senyum pada orang-orang sekitarnya. Aku pun memiliki rindu yang sama. Hanya saja bukan pada cuaca semata. Banyak rindu-rindu lain yang menggumam dalam kepala. Yang tak perlu pula kusebutkan hingga semua orang bisa membaca, cukuplah resah itu kusimpan dalam kepala.
Lalu tercatatlah tulisan tanpa pola ini di lembar maya. Ketika langit juga memberi pastinya, akan menangis, atau tetap tersenyum ia malam ini.

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s