Baru Saja Terjadi.


Cahaya lampu memecah hitam malam.
Suara musik dangdut dari balik tembok tempatku terduduk menyerupa kutil! Sangat mengganggu.

Tak ada rindu, entah di mana syahdu. Sel-sel dalam otakku sepertinya beku.
Aku coba menangkap angin, lalu hendak melemparnya lagi ke luas semesta, namun orang di sebelahku justru pergi, sambil menggumam jika aku tak waras.
Persetan!

Kuleburkan satu persatu resah di telaga waktu, kemudian konsentrasi dalam tunggu.
Aku mau semacam para pertapa, yang tak pernah mampu disentuh sontoloyonya sang waktu.
Bosan!

Aku ingin berteriak, memekik keras ke langit yang bisu, biar pecah gemawan jahanam yang tawan sang bulan.
Tapi aku bukan penyanyi seriosa, suaraku rombeng!
Lalu kumainkan jari-jariku di atas layar handphoneku, duduk diam di tempat lindap cahaya, di mana tak ada yang bisa melihat wajahku.
Ingin berpura menikmati waktu, supaya tak ada yang tau jika jeruji sang waktu membelenggu senyumku.
Biarlah!
Aku bukan model tampan, atau lelaki idaman, jadi senyumku ada atau tidak, tak ada yang peduli.

Ah! Lamat-lamat suara adzan Isya membelah cakrawala, dan baru saja setetes air jatuh ke kepala. Hujan? Atau air seni kelelawar? Entah.
Lebih baik kusingkirkan tubuhku dari tempat ini.
Pergi. Tinggalkan sepi, biar dia mati.

Jakarta, 20/01/2012 19:41

3 comments

  1. manteb banget tau gak sih mas, dalem merobek2, menyayat2. ah bikin terangsang banget pengen trus trus n trus berulang2 ngebaca tulisan2x mas. ohhhhhhhh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s