Pada Sebuah Malam


Hujan hampir reda, hanya beberapa butir gerimis tersisa.
Sebongkah ingatan tiba-tiba merajam kepala, tentang seorang wanita yang sangat kuhapal namanya.
Yang pada senyumnya pernah kukutuk cinta, karena telah menyeretku sebagai penikmatnya.
Sedang apa ia?

Sedang tersenyumkah?
Atau termenung?

Beberapa sinar terka sempat kumuntahkan, namun bukan doa.
Toh ia bukan sesiapa, hanya satu dari sekian banyak kesempurnaan semesta.
Jatuh cinta? Tak juga.
Mungkin semacam penasaran belaka; bagaimana rasa peluknya, atau lumat perlahan bibir tipisnya yang bergincu merah muda. Itu saja.

Bukan cinta, usah tergesa.
Maka wanita, jangan dulu kau palingkan muka.
Ini masih rasa yang balita, langkahku belum pasti terhenti di sana, di tempatmu memberi goda.
Segala masih tanda tanya, pasti hanya kelakar saja.
Jadi mari tersenyum bersama untuk kejadian yang sudah ada, terserah apa yang akan terjadi setelahnya antar kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s