Sia-Sia.


Malam ini sia-sia.
Meski dentum lagu sialan dari musisi punk terus bergema di segenap ruang, masih saja sia-sia.
Jarum jam semacam berdusta.
Ada hilang, tapi entah apa.
Sadar yang ternyata masih ada? Mungkin saja.

Bukan entah, hanya sejumlah tanda tanya.
Yang lagi-lagi belum diketahui tentang apa.
Hingga secangkir kopi datang dengan memesona, rasa sia-sia itu belum juga beranjak dari tempatnya.
Berbatang-batang rokok yang sebelumnya mencoba jadi pahlawan kini terlihat tolol.
Benderang lampu dalam ruang seakan menggoda; dibuat tak bernyawa.
Dan sia-sia pun merangsang otak tuk meminta jemari terus sentuh kotak aksara di telepon selular, buat rangkaian kalimat-kalimat dungu.
Seperti ini!
Sungguh sia-sia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s