Drama Tentang Surau


Langit terkaget oleh gelegar adzan dan lantunan ayat suci yang bertubi.
Surau-surau tak lagi lindap, cahaya membuncah hebat di setiap sudutnya.
Ini Bulan Suci, Ramadhan yang sempurna.
Bulan di mana umat Muslim berlomba mencari pahala, media massa sibuk mendulang uang lewat iklan rohani rekayasa.

Surau semacam pasar kaget, tetiba saja hingar suara manusia.
Surau serupa artis dadakan, kamera wartawan televisi bisa datang dengan tiba-tiba, seolah bawa kabar gembira; buatnya dikenal seantero Indonesia.

Pada awal hingga pertengahan bulan puasa, surau seperti sedang adakan pesta, ramainya luar biasa.
Menjelang akhir puasa, dekati lebaran, surau seakan hilang daya, sepi yang mulai meraja, mati sudah pesta, entah kemana jema’ah yang sebelumnya.
Hanya tersisa tawa riang anak-anak kecil saja, yang dalam pikirannya bulan ini sebagai pesta, mereka bebas bermain hingga malam tiba, dan surau sebagai medianya.
Dan tatap getir Ayah dan Ibu mereka di dalam surau, dengan tangan mengadah khusuk amiinkan doa.
Pikirannya lontarkan pertanyaan:
Sesaat lagi lebaran tiba, seperti biasa harga bahan makanan naik tanpa ampun, anak-anak butuh baju baru supaya tak dihina teman-temannya, hutang selama masa puasa harus dibayar untuk biaya mudik sang pemberi piutang, cari hutang yang baru untuk biaya mudik dan THR pada sanak saudara di kampung. Sanggupkah tercapai semua?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s